Syar’i my Indentity

Selamat tinggal T-shirt, karena kamu selayaknya hanya digunakan ketika aku berada dalam rumah

Selamat tinggal jeans. Kamu terlalu nampak, hingga jika aku menggunakanmu sama saja aku berpakaian tapi telanjang

Selamat tinggal kerudung modis, kamu layaknya hanya hiasan di rambut yang seperti bandana

Selamat tinggal punuk unta, aku takut tak mencium bau surga jika aku mempertahankanmu. Baunya saja tak dapat aku cium, bagaimana dengan surgaNya, aku takut tak dapat rahmat dari Tuhanku

And welcome to hijab syari.

Kini ku merasa lebih bebas dalam setiap aktifitas dan lebih terjaga pastinya. Jilbab syari jadikan penjagaan diri dan alarm hati agar tidak lalai pada ilahi. Aku hanya takut di hari penghisaban, Allah tidak mau memandangku dengan kasih sayang Nya karena hijabku tidak sesuai ridhoNya

(@feggypsuherman)

 

Dulu aku berfikir berhijab itu bukanlah suatu kewajiban. Mereka yang berhijab mungkin merasa lebih percaya diri dengan hijabnya. Mungkin untuk menutupi berbagai kekurangan dalam dirinya. Atau karena ibu dan kakak perempuannya berhijab jadi ia ikut berhijab.

Dulu aku pun berhijab karena disuruh suami, karena merasa badan sudah melar setelah melahirkan, dan tidak ada baju yang cocok dipakai akhirnya aku turuti. Namun baru benar merasakan berhijab sesungguhnya ketika beberapa bulan belakangan ini. Karena benar-benar tubuh ditutup bukan sekedar dibalut. Ketika masih bekerja ikut demam hijab trendy alias hijab gaul. Masih pakai celana jeans dan baju serba ketat, serba ribet dengan tutorialnya dan sibuk mengikuti fashion di setiap minggunya. Alhamdulillah, dengan adanya media sosial saya belajar banyak mengenai makna sesungguhnya berhijab, mengenai syarat-syarat sesungguhnya berhijab.

Ternyata saya baru menyadari betapa berharganya seorang muslimah dengan hijabnya. Sehingga Islam pun, memuliakanya dengan segala cara. Islam tahu bahwa muslimah akan menjadi pusat perhatian mata-mata nakal. Maka Islam pun mensyariatkan untuk menutup aurat muslimah dengan jilbab dan pakaian longgar yang tidak transparan. Dan ternyata banyak kesalahan dalam berhijab.

 

Semakin hari terus berusaha memantaskan diri dengan :

1. Memanjangkan hijab & Melonggarkan gamis

 

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiallahu’anha, beliau berkata : Asma binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalllam dengan pakaian yang tipis. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalllam pun berpaling dari nya dan bersabda, “wahai Asma”, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini. Beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata: “Hasan dengan keseluruhan jalannya”). Jadi, seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan.

Bukankan Allah Ta’ala berfirman :”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”(Qs. Al-Ahzab:59)
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya
(QS An-Nuur:31)

 

Jadi hijab yang disyariatkan itu adalah :

Menutup seluruh tubuh, lebar, longgar, sederhana, tidak tipis/transparant, tidak kelihatan seksi atau menggoda, dan memperlihatkan lekuk lekuk tubuh, tidak dihias, tidak memancing syahwat bagi yang melihat.

No tabaruj, no punuk unta, no make up menor, no high heels
Semakin dalam pemahamannya, semakin sederhana penampilannya.

Karena sungguh, hijab itu untuk meraih ridha Allah, bukan decak kagum khalayak.

Terlihat gemuk? Ah, gak perlu takut. Biarlah tampak gemuk karena memakai baju longgar, daripada tampak kurus karena pakai baju ketat. Sebab Pintu Surga longgar bagi yang taat, dan ketat bagi yang ingkar. Penilaian Allah yang utama

 

2. Mengistiqamahkan memakai memakai kaos kaki

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kaki juga aurat : “Dan janganlah mereka (para wanita) memukulkan kaki mereka agar orang mengetahui perhiasan yang mereka sembunyikan”(QS An-Nuur:31)

 

3. Mengkaji Ilmu Sunnah

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalllam bersabda: “Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”

Berhubung aku belum tau informasi mengenai kajian ilmu sunnah di Kota ini, jadi aku masih mengandalkan media sosial untuk mempelajarinya.

 

Selain itu, aku bergabung di grup whatsapp Bimbingan Islam, yang diasuh oleh Ustadz-ustadz Madina, dan pastinya radio rodja, berhubung di Palembang ga dapet siarannya, jadi streaming dari internet di www.radiorodja.com

Ternyata Islam itu begitu memuliakan kita.

Bagaimana tidak, apapun yang dilarang sesungguhnya bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya. Namun, karena hati kita tertutup dengan penyakit-penyakit hati. Maka sulit untuk menerima nasihat, ilmu, bahkan hidayah, Naudzubillah.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang Allah kehendaki kebaikan dengan memahamkan kita kepada AgamaNya. Amin

Kursus Kilat di Bogasari

Udah lamaa banget kepingin kursus kue. Baru kesampean sekarang, soalnya si Khalid ga ada yang jagain.
Berhubung sekarang, si Baba tiap hari home office (hihi, enak ya). Jadi baru bisa sekarang deh.
Iseng-iseng, nanya jadwal ke Bogasari Baking Center. Aku memutuskan untuk ikut funpao (ga mau yang berat-berat dulu)
Tanggal nya akan diinfo kalau sudah terkumpul 3 orang yang daftar.
Beberapa hari kemudian, aku dihubungi pihak BBC, untuk jadwal kursus membuat funpao.

Singkat cerita, aku mengikuti kursus kue di BBC. Kursus dimulai jam 9 pagi, jam 1 siang udah selesai.
Menyenangkan sekali. Peserta kursus langsung praktek, membuat pao dan membentuk menjadi pao yang lucu unyu-unyu.
Suasana nya santai, instruktur nya juga baik. Pak Qoyyum, yang mengajari cara menguleni adonan, dan Pak Rosyid yang mengajari cara membentuk adonan.

Yang paling menyenangkan adalah mendapat teman-teman baru. Dan setelah kursus pao ini selesai, kita bertiga berniat untuk ikut lagi kursus membuat mie. Hayuuukkk

Resepnya bisa dilihat disini 

 

 

Membuat funpao

Membuat funpao

 

Seminggu kemudian, setelah kursus funpao, kami bertiga mengikuti kursus membuat aneka mie sehat.
Seperti kursus sebelumnya, kita praktek langsung dalam mengolah mie, membuat minyak ayam, kuah ayam, pangsit, dan sambalnya.
Wah ternyata bikin mie ayam seperti abang-abang jualan itu gampang yah, hihihi..
Yang agak ribet, proses pembuatan mie nya saja. Harus diuleni hingga kalis, pake mesin siiy, tapi kan tetep ajaa pegel.

 

Aneka Mie Sehat

Aneka Mie Sehat

Selesai kursus, peserta boleh makan mie ayam yang tadi dibuat. Sisanya dibagi, dan dibawa pulang. Asiik kaaann

Oh iya, dapet sertifikat juga loh. Ntar, siapa tau, besok-besok buka warung mie ayam, bisa dipajang deh. Hihihi

 

Sertifikat_2

 

 

sertifikat_1

Aku dan Hijrahku

 

Inilah cerita pertama memakai jilbab (hijab)

Pertama mengenakan jilbab itu setelah melahirkan Khalid (telat banget ya, hikkss). Itupun atas perintah suami (belum nyadar kalau berhijab adalah perintah Allah, hikss). Tapi masih abal-abal, alias lepas pasang. Kalo kerja dipake, kalo keluar rumah buat sekadar beli sayur, atau buang sampah, masih lalai alias ga pake jilbab. Lanjut setelah berhenti bekerja dan pindah kerumah idaman, dimana komplek perumahan yang aku dan keluarga kecilku tempati adalah perumahan muslim. Suami mulai gerah melihatku melangkah keluar rumah tanpa jilbab. Maka suami memerintahkan untuk tidak menanggalkan jilbab ketika keluar rumah. Lama-lama terbiasa dan merasa nyaman mengenakannya. Dulu aku belum syari memakai jilbab, masih menggunakan legging, kaos, kadang celana jeans. Setiap mau pergi ribet dengan jarum pentul dan tutorial hijab.

 

Pertama kali mengenal hijab syari

Setahun yang lalu aku memenuhi undangan kajian mingguan di rumah sepupu ku. Aku takjub melihat sepupuku dan teman-temannya yang mengikuti kajian tersebut mengenakan hijab syari yang lebar dan panjang. Dalam hati mengagumi mereka. Alangkah cantik dan anggun-anggun nya mereka. Apalagi pas sholat dzuhur, mereka menggunakan jilbab yang mereka kenakan saat itu. Gak pake mukena lagi. Terus terang dulu, apabila melihat wanita yang berjilbab panjang langsung berprasangka mereka mengikuti aliran tertentu. Tapi setelah mengikuti kajiannya, ternyata sama saja seperti kajian biasa. Hanya saja, lebih ke Sunnah. Hati ini rasanya ingin langsung berhijrah ke syari. Tapi bagaimana mungkin yaaa. Jilbab dan gamis sepanjang itu pasti mahal, bahannya aja mungkin bisa 5 meteran. Sementara perekonomian lagi morat marit, hikksss, Belum lagi, hati kecil masih sangsi. Apakah aku bisa istiqomah, sementara ilmu agama aja masih dangkal sekali. Baca Kitab Suci Al-Quran aja masih bolong-bolong. Nanti kalau ditanya-tanya soal ilmu agama gimana? Hal pertama yang dialami setelah berhijab syar’i biasanya adalah ledekan dari teman-teman bahkan keluarga seperti ini misalnya “ciyyeee ciyeee yang alim sekarang”. Waduh, kalau diturutin bisa gawat nih.

 
Memantapkan Hati, Bismillah

Setelah perekonomian agak membaik. Dan mendapat dukungan dari suami, mulai deh nyicil belanja gamis dan khimar nya. Alhamdulillah, sekarang lagi trend hijab syari, jadi sudah banyak yang menjual. Tinggal cari hastag #hijabsyari di instagram. Muncul deh stelan-setelan gamis yang kita inginkan. Pengalaman pertama mengenakan gamis dan khimar, orang-orang ngeliatin dari atas kebawah. Agak risih sih, rasanya pengen disemprot aja yang ngeliatin.. Sabar.. sabar..

Tapi aku berfikir positif aja, mungkin mereka seperti aku dulu ya. Mengagumi, tapi apa daya… hihihi.

Makin kesini, makin cuek. Gak perduli orang melihat aneh, memandang sinis, atau apalah terserah, kesimpulanku bahwa kalau kita menuruti apa kata manusia gak bakalan ada habisnya. Tapi kalau menuruti apa kata Allah, surga jaminannya. Alhamdulillah gak berasa sudah sebulan aku berhijrah ke syari, sekarang aku merasa lebih nyaman, lebih adem, gak ribet dengan turorial dan pentul-pentulan.
Aku tidak bertujuan untuk menyindir atau mencaci siapapun lewat tulisan ini. Tulisan ini untuk mengingatkan ku, betapa panjang proses hijrah ini. Ketika dunia menggodaku untuk menciutkan panjang dan lebar khimarku, mengerutkan ukuran ketaatanku, mengenakan pakaian akhir jaman. Aku kembali lagi mengeraskan hati dengan mengingat-Nya. Mencari-cari kembali mengapa aku berazzam untuk berhijrah dulu.. Melihat kembali saudari-saudari kesayangan yang semakin hari semakin taat. Melihat kembali sosok keanggunan mereka yang dulu sangat aku kagumi.

Walaupun aku sudah berjilbab syar’i, bukan berarti ibadah ku sudah sempurna. Sebab dengan berjilbab syar’i, ini adalah langkah awal memperbaiki diri. Dan lebih upgrade lagi sama amal ibadah dan ilmu agama. Gitu loh Baba 😀

 

Kalau udah berpenampilan begini, gak boleh lagi makan sambil jalan-jalan di mall.. hihihi

Alhamdulillah ada suami yang menegur kalau agak-agak berbelok sedikit 🙂