Musik Halal atau Haram ???

Silahkan tanya hati nurani anda, mulai dari :

– Lirik lagunya

– Yang menyanyikannya

– Goyangan di panggung nya

 

Kira-kira mengajak kita ke surga atau neraka?

‘ Sungguh musik dapat memalingkan hati seseorang dari memahami, merenungkan dan mengamalkan isi Al Quran.

Ingatlah, Al Quran dan musik selamanya tidak mungkin bersatu dalam satu hati, karena keduanya itu saling bertolak belakang”

 

(Ibnul Qoyyim)

 

Musik bikin hati ser-ser an tidak karuan

Bikin jiwa melayang-layang di angkasa

Bikin meraung-raung karena syair nyaa

Musik bikin lupa waktu dan tempat

Orang jadi tidak punya malu bila denger musik

Dipanggung bisa buka baju loncat-loncatan

Gara-gara musik pun susah menghapal Al-Quran

Karena yang diingat cuma syair musik yang kebarat-baratan

 

Musik,.. sampai tidak mendengar azan berkumandang

Bikin keras hati kalau mendengar ayat-ayat suci Al-Quran

Kalau sudah mendengar musik hidup seperti damai

Untukmu yang masih terjebak musik, ketahuilah bahwa musik dan Alquran tidak akan bisa bersatu

Tidak akan bisa yang halal dicampur adukkan dengan yang haram

Selamanya yang haram akan menjadi haram

 

Jikalau musik itu boleh, tentunya Rasulullah dan para sahabat sudah mendahului kita untuk melakukannya

Ya… Pasti Rasulullah akan berdakwah dengan musik

Tapi kenyataannya apa? Tidak pernah

Musik, meninggalkannya hanya berat di awal awal.

Tidak bisa hidup tanpa musik? Omong Kosong…

Banyak yang sudah membuktikannya

Saya sendiri dulu sempat gandrung sekali terhadap musik. Semua lirik lagu yang sedang hits pada masanya saya hafal. Tak terasa puluhan tahun sudah berlalu sejak masa sekolah, tanpa sengaja terdengar lagi salah satu lagu yang pernah saya gandrungi dulu. Anehnya masih hafal diluar kepala lirik lagu tersebut.

Menyesal sekali. Seandainya dulu yang saya dengarkan adalah Murottal, lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, mungkin saat ini saya bisa hafal luar kepala isi Kalamullah.

Sekarang mendengarkan suara musik yang berdentam dentum rasanya kepala pusing. Semoga hati ini tidak akan pernah kembali kepada lantunan musik

 

 

Anti Selfi

“Jadilah wanita yang tidak gemar selfie dan hobi pamer kecantikan.

Agar kelak suamimu bersyukur karena telah memiliki istri yang mempersembahkan kecantikannya hanya untuk dirinya”

 

Tanya :

Banyak banget sekarang yang hobi selfie, mohon dijelaskan apa hukum selfie?

Jawaban :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du

Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam melarang keras seseorang ujub terhadap dirinya. Bahkan Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai dosa besar yang membinasakan pelakunya.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga dosa pembinasa : Sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya

(HR. Thabrani dalam al Ausath 5452 dan dishahihkan Albani)

Disaat yang sama Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam memotivasi kita untuk menjadi hamba yang berusaha merahasiakan diri kebalikan dari menonjolkan diri.

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri

(HR. Muslim 7621)

Selfie, jeprat jepret sendiri, tidak sejalan dengan prinsip diatas. Terlebih umumnya orang yang melakukan selfie, tidak lepas dari perasaan ujub, meskipun tidak semua orang yang selfie itu ujub. Namun terkadang perasaan lebih sulit dikendalikan.

Karena itu, sebagai mukmin yang menyadari bahaya ujub, tidak selayaknya semacam ini dilakukan

 

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Hikmah Beriman Kepada Takdir

Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala

(Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya)

 

Manusia memiliki keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabbnya.

Golongan Ahlussunnah menetapkan dan meyakini bahwa segala yang telah ditentukan, ditetapkan, dan diperbuat oleh Allah memiliki hikmah dan segala usaha yang dilakukan manusia akan membawa hasil atas kehendak Allah.

 

Ingatlah saudariku, tidak setiap hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka hendaklah kita menyerahkan semuanya dan beriman kepada apa yang telah Allah tentukan. Jangan sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit “sentilan”, sehingga muncullah bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan mengurangi nikmat iman kita.

 

Dengarlah sabda Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Berusaha untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah & janganlah kamu sampai lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, jangan lah engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu’.

Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa masyaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendakinya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya kata “seandainya” itu akan mengawali perbuatan syaithan.”

(Shahih, riwayat Muslim dalam dalam Shaih-nya (no.2664)

 

Apabila hati kita telah yakin dengan setiap ketentuan Allah, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, dan tidak akan ada kegelisahan yang muncul dari dalam diri kita, sehingga kita akan lebih semangat lagi dalam melakukan segala urusan tanpa merasa khawatir mengenai apa yang akan terjadi kemuadian.

Kita akan tawakkal sebagai perbekalan ketika menjalani urusan & kita akan bersabar kala ujian datang menghadang.

Wallahu Ta’ala a’lam wal musta’an

—-

Buat yang punya anak ataupun khadimat dirumahnya dan suatu waktu mereka memecahkan/merusak sesuatu, janganlah memarahi atau atau menyesali barang yang rusak itu.

Percayalah bahwa kejadian itu sudah merupakan takdir Allah. Tiada guna kita marah atau menyesal, itulah bagian dari iman.

 

‘Jangan memukul budak perempuanmu hanya karena dia memecahkan barang pecah belahmu. Sesungguhnya barang itu ada waktu ajalnya seperti ajalnya manusia.’

(HR. Abu Na’im dan Ath-Thabrani)

 

regram from @anisyabutik

Maaf Saya Tidak Mengucapkan Selamat Ulang Tahun.. Karena Saya Tidak Merayakannya

 

no-birthday

 

Kalau ditanya kenapa koq hilang dari grup BBm/WA? karena salah satu alasannya adalah ritual mengucapkan selamat ulang tahun apabila ada salah satu anggota grup yang berulang tahun. Kalau sekadar ngumpet alias tidak ikut berpartisipasi mengucapkan selamat ultah siih, gak apa-apa.. Tapi kalau pas saya yang berulang tahun, dan anggota grup mengucapkan? Mau tidak mau saya harus membalas dengan ucapan terimakasih. Bla..bla..blaaa…

Yah begitulah, mungkin karena karena kurangnya pengetahuan mengenai “ke-Aqidah-an”, masih banyak ummat Islam yang mengikuti ritual paganisme ini. Apalagi gencarnya media yang menayangkan acara ulang tahun artis atau bahkan ustadz/da’i muda (semoga Alloh memberi hidayah padanya) semakin menguatkan tradisi ini. Bahkan sampai-sampai ulang tahun Nabi صلى الله عليه وسلم  pun dirayakan hingga kini padahal Nabi dan sahabatnya tidak melakukannya.

Mungkin ucapan selamat ataupun do’a merupakan bentuk kebaikan namun sebaiknya kebiasaan ini kita tinggalkan. Jika ingin mendo’akan sesama muslim alangkah lebih baik jika tidak dikhususkan padi hari ulang tahun saja. Bahkan jika mendo’akan sesama muslim tanpa sepengetahuannya maka do’a itu akan kembali kepada kita.

Dari Abu Ad-Darda’  dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dan hari raya di dalam Islam hanyalah dua: yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun selain keduanya dari berbagai perayaan apakah yang berhubungan dengan seseorang, sekelompok orang, atau satu kejadian, atau dengan makna apa saja, maka itu merupakan perayaan-perayaan yang baru dalam agama, Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu :

Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah dan ketika itu penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bisa bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah, maka beliau bersabda : “Aku datang pada kalian dalam keadaan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari tersebut dengan yang lebih baik yaitu hari Nahr (Iedul Adha) dan Iedul Fitri.”
(HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Baghawi)

Untuk perayaan ulang tahun, tidak boleh bagi Kaum Muslimin melakukannya, menyetujuinya, dan menampakkan kegembiraan dengannya, atau membantunya dengan sesuatu. Sebab hal tersebut termasuk ke dalam sikap melanggar batasan-batasan Allah, dan barangsiapa yang melanggar batasan-batasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka sungguh dia telah menzhalimi dirinya sendiri.

Apabila perayaan yang diada-adakan tersebut berasal dari perayaan orang-orang kafir, maka ini berarti dosa di atas dosa, sebab menyerupai mereka, dan itu merupakan bentuk loyalitasnya kepada mereka. Dan sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah melarang Kaum Mukminin menyerupai mereka dan bersikap loyal kepada mereka dalam kitab-Nya yang agung. Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

” Barangsiapa yang menyerupai satu kaum,maka dia termasuk mereka ”
(HR.Abu Dawud dari Abdullah bin Umar)

Islam hadir dengan solusi mu’amalah (interaksi sosial) yang jauh lebih baik, yakni do’a. Ya, mendoakan kebaikan bagi kawan atau siapapun orang yang kita sayangi, sebagai bentuk perhatian kita pada orang tersebut.

===

Mohon maaf bagi teman-teman dan saudara-saudaraku karena aku tidak mengucapkan selamat di hari ulang tahunmu. Bukanlah karena tidak perhatian atau tidak mau kumpul dalam pesta makan-makan, hanya karena apa yang diajarkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم  tidaklah demikian.

Biarlah diri ini menjadi asing dan semoga kita termasuk orang asing yang beruntung itu (Ghuroba) seperti disabdakan oleh Rasululloh صلى الله عليه وسلم.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

 

Memilih Teman

ATT_1443756377813_Screenshot_2015-10-02-10-19-43-01

 

by @likeislam

 

Mencari teman itu MEMANG HARUS MEMILIH.. Maka lihatlah dengan siapa dia berteman

Kata Rasulullah, kalau kita ingin mengetahui seseorang itu bagaimana, lihatlah dengan siapa dia berteman. Kalau ia berteman dengan pandai besi ia akan terkena aroma besi yang terpanggang.

Jika ia berteman dengan penjual parfum, ia akan terciprati harum parfum.

Seorang teman, kawan, sahabat, ternyata sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Lihatlah perumpamaan Nabi kita tercinta. Kadang kita suka meremehkan dengan siapa kita berteman, dengan siapa kita bergaul.

Ketika kita bergaul dengan orang-orang yang jauh dari ketaatan kadang kita tidak sadar, perlahan ketaatan kita pun mulai pudar dan kita pun tidak terasa

 

Ketika kita bergaul dengan orang-orang yang mencintai dunia, secara perlahan dan tak sadarkan diri kita mulai melupakan akhiratdan perbincangan kita menjadi sebatas urusan duniawi.

Namun ketika kita bergaul dengan orang-orang shalih, perlahan kita mulai mengikuti jejak teman kita, mulailah kita bersemangan ketika berkumpul dengan mereka.

Melihat mereka pun bisa menambah semangat kita dalam ketaatan

 

Berarti kita hanya boleh bergaul dengan orang Shalih???

 

Tidak… Sama sekali tidak.. Rasul mengajarkan kita untuk bergaul dan mengakrabkan diri dengan orang-orang baik. Bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan orang yang jauh dengna ketaatan.

Rasul minta kita juga menasehati mereka, dakwahkan mereka, yang belum mendapatkan hidayah, semoga saja mendapatkan hidayah melalui upayamu !!!

 

Jadi ketika kita mulai malas beribadah, malas berdakwah, lebih senang mager dirumah, dibanding menghadiri majelis ilmu, lebih senang jalan-jalan, kongkow-kongkow dibandingkan menjalankan aktivitas dakwah jama’i.

Lihatlah dengan siapa kita berteman dan bergaul, dan renungkanlah seberapa jauh kita dari ketaatan, seberapa lama kita tidak merasakan manisnya ibadah

 

Coba kita bermuhasabah, dengan siapa kita selama ini berteman akrab, dengan ahli ibadahkah atau ahli maksiat

Siapa Saja Mahram Seorang Wanita

Hafalkan siapa saja Mahram kita

Checklist :

1. Anak Laki-laki

2. Cucu Laki-laki (dari anak perempuan/anak laki-laki) dan keturunan mereka

3. Ayah

4. Kakek (dari Ayah/Ibu) dan keatas

5. Saudara sekandung, se Ayah/ se Ibu

6. Keponakan laki-laki dari saudara sekandung, se Ayah atau se Ibu

7. Paman (Saudara Ayah/Ibu atau saudara Kakek/Nenek)

8. Mertua atau Mantan Mertua

9. Menantu atau mantan menantu

10. Ayah Tiri/ Mantan Suami ibu (syarat : telah berhubungan badan dengan Ibu)

11. Anak Laki tiri (anak suami/anak mantan suami dari istri lain)

12. Saudara sepersusuan dan siapa saja yang jadi mahram saudara persusuan dari nasab dia

 

Catatan :

Suami bukan Mahram

Karena arti Mahram adalah orang yang haram dinikahi selama-lamanya, namun suami lebih berhak daripada mahram anda dalam safar, bahkan suami anda berhak melihat dan menyentuh seluruh tubuh anda

 

Penting untuk diingat :

1. MAHRAM 

adalah setiap orang yang haram untuk dinikahi selamanya

 

2. Penggunaan istilah MUHRIM tidak tepat, karena muhrim artinya orang yang melakukan Ihram dalam ibadah Haji atau Umroh

3. Ipar dan sepupu bukan mahram kita, apalagi orang yang tidak ada hubungan nasab

 

Tips jitu buat perempuan agar tidak kena jabat tangan dengan non mahram adalah berpakaianlah yang syarie, tidak tabbaruj. Semakin panjang jilbab kita, semakin segan orang memberi tangan untuk memberi salaman. Maka laki-laki juga segan untuk menyodorkan tangan, hehe

 

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya”

(H.R. Thobroni)