Belajar Sabar dan Ikhlas dalam Keadaan Apapaun dari si Kecil Khalid (Bag.2)

 

Setelah didiagnosa Tumor Otak (Ependymoma Blastoma) pada bulan Desember 2013, Khalid menjalani operasi, dilanjutkan dengan radioterapi. Tidak ada gejala yang berarti setelah itu. MRI pun rutin dilakukan setiap 6 bulan sekali sesuai dengan anjuran dokter.

Namun, di tahun ke 2 setelah serangkaian proses diatas, Khalid sering mengeluh sakit kaki, pusing, lemas, dan setiap malam tidur suka rewel, dan yang paling membuat saya panik adalah, muka Khalid miring kalu sedang berbicara atau menangis.

Singkat cerita saya membawa Khalid ke rumah sakit, dan saya langsung meminta Khalid di MRI ulang, karena saya curiga tumor tumbuh lagi (walaupun MRI baru dilakukan 6 bulan yang lalu)

20 Juni 2015

Hasil MRI Keluar

Kecurigaan saya benar, hasil MRI menyatakan bahwa csf bermetastase dan menyebar. Bukan hanya satu di tempat yang lama, tetapi banyak dan menyebar ke sebagian besar otak nya. Kali ini kami benar-benar harus mengikhlaskan nya. Karena bagaimanapun, anak hanyalah titipan Allah, Ia berhak mengambilnya kapanpun Allah menghendakinya.

Karena kami tinggal di Palembang, dan kondisi Khalid tidak memungkinkan untuk di bawa ke RSCM, maka suami saya yang membawa hasil MRI ke Dr. Samsul Ashari SpBS, dokter bedah saraf yang menanganinya dulu.

Merujuk kembali hasil PA Khalid, bahwa jenis tumor adalah ependymoma blastoma, maka beliau tidak menyarankan operasi. Karena walaupun tumor sudah diangkat 100%, namun penyebaran bisa terjadi lagi. Pilihan selain operasi adalah kemoterapi.

 

24 Juni 2015

Kejang kejang dan Kondisi Semakin Lemah

Karena dokter menyarankan kemo, maka kami tidak perlu membawa Khalid ke RSCM. Kemo dilakukan di Palembang. Sementara kondisi Khalid semakin lemah, dan karena tekanan di otak nya, menyebabkan Khalid kejang berkali-kali.

 

 

1 Juli 2015

Kemoterapi Pertama dan Terakhir

Pukul 20.00 Khalid diberi obat kemo, namun Allah berkehendak lain, selang 9 jam setelah pemberian obat kemo, Khalid menghadap Allah sang Pencipta.

Mohon maaf, tidak bisa bercerita secara rinci, karena terlalu sedih bagi saya untuk menceritakannya.

Karena saya orang tua kandung nya, saya tidak tega untuk memposting foto apapun. Baik foto saat dia masih sehat, maupun foto saat dia sedang sakit.

Satu hal yang pasti bahwa ini yang terbaik dari Allah, karena melihatnya menderita selama di Rumah Sakit juga rasanya membuat  hati ini teris-iris.

Namun kenyataan bahwa anak saya sudah berada di sisi Allah, di Surganya yang Indah membuat hati ini tentram 🙂

Selamat Jalan Anakku, tenang engkau disana, tidak ada Dokter dan Suster yang “menyiksamu” lagi. Sementara diasuh Nabi Ibrahim dulu ya Nak.

Mama dan Baba akan berusaha memantaskan diri agar kita kelak bersama-sama di Surga-Nya yang kekal. InsyaAllah

 

Terimakasih untuk semua yang sudah memberikan support dan doa.

Kami sebagai orang tua, memohon maaf apabila kami ada salah, karena boleh jadi semua karena dosa orang tua nya yang terlalu banyak, sehingga Allah mengambil anak kami sebagai tabungan kami di akhirat kelak. Waallahua’lam

 

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.