Maaf Saya Tidak Mengucapkan Selamat Ulang Tahun.. Karena Saya Tidak Merayakannya

 

no-birthday

 

Kalau ditanya kenapa koq hilang dari grup BBm/WA? karena salah satu alasannya adalah ritual mengucapkan selamat ulang tahun apabila ada salah satu anggota grup yang berulang tahun. Kalau sekadar ngumpet alias tidak ikut berpartisipasi mengucapkan selamat ultah siih, gak apa-apa.. Tapi kalau pas saya yang berulang tahun, dan anggota grup mengucapkan? Mau tidak mau saya harus membalas dengan ucapan terimakasih. Bla..bla..blaaa…

Yah begitulah, mungkin karena karena kurangnya pengetahuan mengenai “ke-Aqidah-an”, masih banyak ummat Islam yang mengikuti ritual paganisme ini. Apalagi gencarnya media yang menayangkan acara ulang tahun artis atau bahkan ustadz/da’i muda (semoga Alloh memberi hidayah padanya) semakin menguatkan tradisi ini. Bahkan sampai-sampai ulang tahun Nabi صلى الله عليه وسلم  pun dirayakan hingga kini padahal Nabi dan sahabatnya tidak melakukannya.

Mungkin ucapan selamat ataupun do’a merupakan bentuk kebaikan namun sebaiknya kebiasaan ini kita tinggalkan. Jika ingin mendo’akan sesama muslim alangkah lebih baik jika tidak dikhususkan padi hari ulang tahun saja. Bahkan jika mendo’akan sesama muslim tanpa sepengetahuannya maka do’a itu akan kembali kepada kita.

Dari Abu Ad-Darda’  dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dan hari raya di dalam Islam hanyalah dua: yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun selain keduanya dari berbagai perayaan apakah yang berhubungan dengan seseorang, sekelompok orang, atau satu kejadian, atau dengan makna apa saja, maka itu merupakan perayaan-perayaan yang baru dalam agama, Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu :

Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah dan ketika itu penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bisa bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah, maka beliau bersabda : “Aku datang pada kalian dalam keadaan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari tersebut dengan yang lebih baik yaitu hari Nahr (Iedul Adha) dan Iedul Fitri.”
(HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Baghawi)

Untuk perayaan ulang tahun, tidak boleh bagi Kaum Muslimin melakukannya, menyetujuinya, dan menampakkan kegembiraan dengannya, atau membantunya dengan sesuatu. Sebab hal tersebut termasuk ke dalam sikap melanggar batasan-batasan Allah, dan barangsiapa yang melanggar batasan-batasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka sungguh dia telah menzhalimi dirinya sendiri.

Apabila perayaan yang diada-adakan tersebut berasal dari perayaan orang-orang kafir, maka ini berarti dosa di atas dosa, sebab menyerupai mereka, dan itu merupakan bentuk loyalitasnya kepada mereka. Dan sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah melarang Kaum Mukminin menyerupai mereka dan bersikap loyal kepada mereka dalam kitab-Nya yang agung. Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

” Barangsiapa yang menyerupai satu kaum,maka dia termasuk mereka ”
(HR.Abu Dawud dari Abdullah bin Umar)

Islam hadir dengan solusi mu’amalah (interaksi sosial) yang jauh lebih baik, yakni do’a. Ya, mendoakan kebaikan bagi kawan atau siapapun orang yang kita sayangi, sebagai bentuk perhatian kita pada orang tersebut.

===

Mohon maaf bagi teman-teman dan saudara-saudaraku karena aku tidak mengucapkan selamat di hari ulang tahunmu. Bukanlah karena tidak perhatian atau tidak mau kumpul dalam pesta makan-makan, hanya karena apa yang diajarkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم  tidaklah demikian.

Biarlah diri ini menjadi asing dan semoga kita termasuk orang asing yang beruntung itu (Ghuroba) seperti disabdakan oleh Rasululloh صلى الله عليه وسلم.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)