Aku dan Hijrahku

 

Inilah cerita pertama memakai jilbab (hijab)

Pertama mengenakan jilbab itu setelah melahirkan Khalid (telat banget ya, hikkss). Itupun atas perintah suami (belum nyadar kalau berhijab adalah perintah Allah, hikss). Tapi masih abal-abal, alias lepas pasang. Kalo kerja dipake, kalo keluar rumah buat sekadar beli sayur, atau buang sampah, masih lalai alias ga pake jilbab. Lanjut setelah berhenti bekerja dan pindah kerumah idaman, dimana komplek perumahan yang aku dan keluarga kecilku tempati adalah perumahan muslim. Suami mulai gerah melihatku melangkah keluar rumah tanpa jilbab. Maka suami memerintahkan untuk tidak menanggalkan jilbab ketika keluar rumah. Lama-lama terbiasa dan merasa nyaman mengenakannya. Dulu aku belum syari memakai jilbab, masih menggunakan legging, kaos, kadang celana jeans. Setiap mau pergi ribet dengan jarum pentul dan tutorial hijab.

 

Pertama kali mengenal hijab syari

Setahun yang lalu aku memenuhi undangan kajian mingguan di rumah sepupu ku. Aku takjub melihat sepupuku dan teman-temannya yang mengikuti kajian tersebut mengenakan hijab syari yang lebar dan panjang. Dalam hati mengagumi mereka. Alangkah cantik dan anggun-anggun nya mereka. Apalagi pas sholat dzuhur, mereka menggunakan jilbab yang mereka kenakan saat itu. Gak pake mukena lagi. Terus terang dulu, apabila melihat wanita yang berjilbab panjang langsung berprasangka mereka mengikuti aliran tertentu. Tapi setelah mengikuti kajiannya, ternyata sama saja seperti kajian biasa. Hanya saja, lebih ke Sunnah. Hati ini rasanya ingin langsung berhijrah ke syari. Tapi bagaimana mungkin yaaa. Jilbab dan gamis sepanjang itu pasti mahal, bahannya aja mungkin bisa 5 meteran. Sementara perekonomian lagi morat marit, hikksss, Belum lagi, hati kecil masih sangsi. Apakah aku bisa istiqomah, sementara ilmu agama aja masih dangkal sekali. Baca Kitab Suci Al-Quran aja masih bolong-bolong. Nanti kalau ditanya-tanya soal ilmu agama gimana? Hal pertama yang dialami setelah berhijab syar’i biasanya adalah ledekan dari teman-teman bahkan keluarga seperti ini misalnya “ciyyeee ciyeee yang alim sekarang”. Waduh, kalau diturutin bisa gawat nih.

 
Memantapkan Hati, Bismillah

Setelah perekonomian agak membaik. Dan mendapat dukungan dari suami, mulai deh nyicil belanja gamis dan khimar nya. Alhamdulillah, sekarang lagi trend hijab syari, jadi sudah banyak yang menjual. Tinggal cari hastag #hijabsyari di instagram. Muncul deh stelan-setelan gamis yang kita inginkan. Pengalaman pertama mengenakan gamis dan khimar, orang-orang ngeliatin dari atas kebawah. Agak risih sih, rasanya pengen disemprot aja yang ngeliatin.. Sabar.. sabar..

Tapi aku berfikir positif aja, mungkin mereka seperti aku dulu ya. Mengagumi, tapi apa daya… hihihi.

Makin kesini, makin cuek. Gak perduli orang melihat aneh, memandang sinis, atau apalah terserah, kesimpulanku bahwa kalau kita menuruti apa kata manusia gak bakalan ada habisnya. Tapi kalau menuruti apa kata Allah, surga jaminannya. Alhamdulillah gak berasa sudah sebulan aku berhijrah ke syari, sekarang aku merasa lebih nyaman, lebih adem, gak ribet dengan turorial dan pentul-pentulan.
Aku tidak bertujuan untuk menyindir atau mencaci siapapun lewat tulisan ini. Tulisan ini untuk mengingatkan ku, betapa panjang proses hijrah ini. Ketika dunia menggodaku untuk menciutkan panjang dan lebar khimarku, mengerutkan ukuran ketaatanku, mengenakan pakaian akhir jaman. Aku kembali lagi mengeraskan hati dengan mengingat-Nya. Mencari-cari kembali mengapa aku berazzam untuk berhijrah dulu.. Melihat kembali saudari-saudari kesayangan yang semakin hari semakin taat. Melihat kembali sosok keanggunan mereka yang dulu sangat aku kagumi.

Walaupun aku sudah berjilbab syar’i, bukan berarti ibadah ku sudah sempurna. Sebab dengan berjilbab syar’i, ini adalah langkah awal memperbaiki diri. Dan lebih upgrade lagi sama amal ibadah dan ilmu agama. Gitu loh Baba 😀

 

Kalau udah berpenampilan begini, gak boleh lagi makan sambil jalan-jalan di mall.. hihihi

Alhamdulillah ada suami yang menegur kalau agak-agak berbelok sedikit 🙂